Kasihmu seibaratnya keabadian senyum dan hangat tanganmu. Tuhan pun tahu aku mencintai dua perkara itu. Namun Tuhan tetap merenggut keduanya hingga kau menghilang. ...Yang hilangnya pun abadi.
Kehidupanmu ibaratnya pagar besi. Kalau bukan diguyur hujan, kau dihujani panas. Kau berkarat, namun di balik karatmu masih tersimpan indah dan gagahmu. Tidakkah kau mau mengindahkan dirimu dengan sosok yang bersedia menghapus karat di tubuhmu?
Biarkan nafsumu bergejolak dan izinkan aku untuk menikmatinya, karena sesungguhnya tubuhmu adalah milikku dan tubuhku adalah milikmu.
Di kala hari yang kian berganti, mimpi akan masa lalu itu terus menghantui. Siapakah engkau, wahai jiwa yang terbelenggu di dalam repetisi gelap malam tak berbintang?
Jika saja aku mampu memutar waktu kembali... akankah kau memaafkanku dan segala kelalaianku?
Dulu ibu selalu bercerita bahwa anak yang baik akan mendapatkan hadiah dari Sinterklas. Lantas mengapa tak pernah sekalipun aku mendapatkan imbalan atas budi baikku?
Karena sesungguhnya hanya di tengah malamlah bulan yang bundar sempurna terlihat paling cantik dan aku rela mati melihatnya.
Apa jadinya jika anda memacari shipfu anda? Ini adalah dunia yang dipenuhi dengan delusi indah tiada akhir. Ya, karena satu shipfu tidak akan pernah cukup bagi ladur seperti anda.
Ketika langit menjadi sewarna kita yang besi dan laut berubah warna menjadi serupa darah atas perjuangan dalam nama kesia-siaan, apakah aku masih bisa mengharapkan kebahagiaan yang nyata atas segala kepalsuan di antara perkara kehidupanku?