(Day 1: Holding Hands) Tengah malam, Marco membayangkan dirinya berpegangan tangan dengan Jean. [Birthday fict for F-Crosser]
("… Disimpulkan saja deh: aku ini marinir yang menjadi penyair karena mabuk kepayang padamu, Jean. Bagaimana?" "Tch, gombalanmu norak.") Marco Bott adalah seorang marinir, Jean Kirstein adalah seorang chef papan atas, dan cerita ini menggambarkan bagaimana tipisnya batas antara mimpi dan realita. A fict for Njel. Watch the genre.
Satu orang fana, dua jiwa hampa—bertemu di sebuah ruang musik sepi bukanlah keinginan mereka, melainkan takdir yang bermain-main dengan hati manusia. Ironi dan kesedihan, permainan, lalu kenyataan; bukan itu yang akan menuntun pada akhir bahagia... untuk selama-lamanya.
Pada September 1979, setelah berbulan-bulan terkungkung dalam Laboratorium Desain Konstruksi dan Analisa Peta, akhirnya Eren mengetahui rahasia di balik sikap Levi. Berkaitan dengan stereoskop, foto udara, dan mimpi; ia kembali diingatkan pada dongeng masa kecilnya. AU.
Tolonglah, Aomine. Kise harus berangkat!
Seingat Levi, apa yang dikatakan Erwin padanya adalah "teh hitam" dan bukan "kopi hitam". Hm. [Kelanjutan dari "Dialog Tepi Jembatan"]
Cerita singkat interaksi dalam realita. Satu pemuda bunuh diri di kala senja.
Telepon pertama Marco pada Jean setelah sekian lama mengapung di samudera. [Side story dari "Blue Tomorrow"]